Pengharum mobil membuat kabin terasa lebih segar. Tetapi ketika mobil terparkir di bawah terik matahari, apa yang sebenarnya terjadi pada udara di dalamnya? Sebuah penelitian menemukan bahwa jenis pengharum dapat memengaruhi konsentrasi partikel udara di dalam kabin.
Bayangkan masuk ke dalam mobil yang baru saja diparkir selama beberapa jam di bawah terik matahari. Begitu pintu dibuka, udara panas langsung terasa. Suhu kabin bisa jauh lebih tinggi dibandingkan suhu lingkungan.
Dalam kondisi seperti ini, kita biasanya langsung menyalakan AC dan membuka jendela untuk mengeluarkan udara panas. Namun ada satu hal yang sering luput diperhatikan: apa yang terjadi dengan bahan-bahan yang berada di dalam kabin ketika suhu meningkat drastis?
Salah satunya adalah pengharum mobil.
Pengharum memang digunakan untuk membuat kabin terasa lebih nyaman. Tetapi produk ini bekerja dengan melepaskan senyawa beraroma ke udara. Ketika temperatur meningkat, proses penguapan juga dapat berubah. Pertanyaan inilah yang menarik untuk diteliti: apakah jenis pengharum mobil dapat memengaruhi kualitas udara di dalam kabin ketika kendaraan terpapar panas matahari?
Penelitian yang dilakukan oleh Riyados Solichin, Muji Setiyo, dan Mohamad Heerwan Bin Peeie mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui eksperimen pada sebuah kendaraan Daihatsu Gran Max. Mobil yang terparkir di bawah matahari ternyata menjadi ruang yang sangat panas. Dalam penelitian ini, kendaraan dibiarkan terpapar sinar matahari langsung selama tiga jam.
Empat kondisi dibandingkan: tanpa pengharum sebagai kontrol, pengharum cair, pengharum gel, dan pengharum padat. Konsentrasi partikel udara diukur setiap 30 menit untuk beberapa ukuran partikel, mulai dari 0,3 hingga 10 mikrometer. Suhu dan kelembapan relatif kabin juga dipantau.
Hasilnya cukup menarik.
Suhu kabin meningkat dari sekitar 24–28°C menjadi lebih dari 45°C selama paparan matahari. Pada kondisi tersebut, kelembapan relatif juga mengalami penurunan cukup besar. Artinya, kabin mobil yang tertutup bukan sekadar menjadi "panas". Kondisinya berubah menjadi sebuah lingkungan mikro yang berbeda secara signifikan dari kondisi awal.
Dan dalam lingkungan seperti ini, bahan-bahan yang mudah menguap tentu dapat berperilaku berbeda. Pengharum cair justru menghasilkan partikel paling tinggi. Bagian paling menarik dari penelitian ini muncul ketika konsentrasi partikel dibandingkan. Partikel berukuran 0,3 mikrometer merupakan fraksi partikel yang paling dominan selama pengujian. Pada ukuran inilah perbedaan antarjenis pengharum terlihat paling jelas.
Hasil maksimumnya adalah:
Tanpa pengharum: 64.072 pcs/L
Pengharum cair: 100.089 pcs/L
Pengharum gel: 93.614 pcs/L
Pengharum padat: 31.333 pcs/L
Dengan kata lain, pengharum cair menghasilkan konsentrasi partikel maksimum sekitar 56,2% lebih tinggi dibandingkan kondisi kontrol. Pengharum gel meningkat sekitar 46,1%, sedangkan pengharum padat justru sekitar 51,1% lebih rendah daripada kontrol.
Angka ini tentu menarik, terutama karena secara sederhana kita mungkin mengira bahwa semakin banyak kandungan pewangi, semakin tinggi pula partikel yang dihasilkan.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Bukan hanya kandungan pewangi, tetapi juga bentuknya
Pengharum cair memiliki karakter yang memungkinkan senyawa pewangi lebih mudah berpindah ke udara. Dalam penelitian ini, pengharum cair juga mengandung pelarut yang dapat membantu proses penguapan. Sementara itu, pengharum gel memiliki kandungan pewangi yang bahkan lebih tinggi dibandingkan pengharum cair. Namun konsentrasi partikelnya tetap lebih rendah. Ini memberikan satu pesan penting: jumlah bahan pewangi bukan satu-satunya faktor yang menentukan seberapa banyak senyawa dapat dilepaskan ke udara. Bentuk fisik produk juga berperan.
Pada pengharum cair, senyawa lebih mudah mengalami perpindahan massa dan menguap. Pada pengharum gel, matriks gel dapat memberikan hambatan sehingga pelepasan senyawa berlangsung lebih lambat.
Sementara itu, pengharum padat menghasilkan konsentrasi partikel paling rendah dalam eksperimen ini. Pelepasan senyawa dari matriks padat berlangsung lebih terbatas sehingga penguapan dapat menjadi lebih lambat.
Namun, bagian terakhir ini perlu dibaca dengan hati-hati. Penelitian dilakukan pada satu kendaraan dan tanpa pengulangan untuk setiap kondisi. Karena itu, hasil pengharum padat yang bahkan lebih rendah daripada kontrol masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian berikutnya.
Mengapa partikel tidak terus meningkat meskipun mobil semakin panas?
Ada hal lain yang cukup menarik.
Jika suhu semakin tinggi dan penguapan semakin mudah, kita mungkin membayangkan konsentrasi partikel akan terus meningkat sepanjang eksperimen.
Tetapi kenyataannya tidak demikian.
Dalam banyak kondisi, konsentrasi partikel justru cenderung menurun setelah mencapai nilai awal yang lebih tinggi. Misalnya pada kondisi kontrol, konsentrasi partikel 0,3 mikrometer turun dari 64.072 pcs/L pada awal pengujian menjadi 12.424 pcs/L setelah 2,5 jam paparan matahari, sebelum sedikit meningkat kembali pada pengukuran terakhir.
Mengapa?
Karena jumlah partikel di dalam kabin merupakan hasil dari dua proses yang berlangsung bersamaan: pembentukan dan penghilangan partikel. Di satu sisi, panas dapat mempercepat pelepasan senyawa volatil dari pengharum. Namun di sisi lain, partikel dapat mengendap, bergabung dengan partikel lain, atau menempel pada permukaan interior kendaraan.
Jadi, udara di dalam kabin sebenarnya terus mengalami perubahan. Konsentrasi yang terukur merupakan hasil keseimbangan dari berbagai proses tersebut.
Lalu, apa yang sebenarnya ada di dalam pengharum?
Untuk melihat karakter kimia dari ketiga produk tersebut, penelitian ini juga menggunakan FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy). Sederhananya, FTIR dapat digunakan untuk melihat kelompok fungsi kimia yang terdapat dalam suatu material berdasarkan responsnya terhadap radiasi inframerah.
Hasil analisis menunjukkan adanya beberapa kelompok fungsi, antara lain hidroksil, alifatik, ester, fosfat, nitro, dan senyawa yang mengandung fluor. Pengharum cair dan gel menunjukkan lebih banyak karakteristik yang berkaitan dengan senyawa volatil.
Namun FTIR tidak secara langsung mengatakan, "ini adalah senyawa A" atau "ini adalah senyawa B". Analisis tersebut lebih tepat digunakan untuk mengidentifikasi kelompok fungsi kimia. Untuk mengetahui senyawa secara lebih spesifik, penelitian lanjutan dapat menggunakan teknik seperti GC-MS.
Jadi, apakah pengharum mobil berbahaya?
Di sinilah kita perlu berhati-hati dalam membaca hasil penelitian.
Penelitian ini tidak mengukur konsentrasi VOC secara langsung, sehingga tidak tepat jika hasilnya langsung diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa pengharum mobil tertentu "berbahaya" bagi kesehatan.
Yang ditunjukkan penelitian ini adalah bahwa jenis dan bentuk pengharum dapat memengaruhi dinamika partikel udara di dalam kabin yang terpapar panas matahari.
Penelitian ini juga masih merupakan studi awal, dengan satu kendaraan dan satu kali pengujian untuk setiap kondisi. Karena itu, hasilnya membutuhkan validasi melalui kendaraan yang berbeda, merek produk yang berbeda, pengulangan eksperimen, serta pengukuran VOC secara langsung.
Tetapi justru di situlah menariknya penelitian ini.
Hal yang selama ini kita anggap sederhana—sebuah pengharum yang digantung di mobil—ternyata dapat berinteraksi dengan kondisi termal kabin dan memengaruhi karakteristik udara di dalamnya.
Pelajaran sederhana sebelum masuk ke mobil Bagi pengguna kendaraan, mungkin tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa semua pengharum mobil harus dihindari. Ada pesan yang jauh lebih sederhana: jangan menganggap udara di dalam mobil selalu sama, terutama setelah kendaraan lama terparkir di bawah matahari.
Suhu kabin yang sangat tinggi dapat mengubah proses pelepasan senyawa dari berbagai material di dalam kendaraan, termasuk produk pewangi. Karena itu, membuka pintu atau jendela dan memberikan kesempatan bagi udara panas untuk keluar sebelum berkendara merupakan langkah sederhana yang masuk akal. Sementara bagi peneliti, hasil ini membuka pertanyaan yang lebih besar. Bagaimana perilaku pengharum dengan formulasi yang berbeda? Bagaimana pengaruh merek dan komposisi kimia? Apakah hasilnya sama pada mobil penumpang, kendaraan niaga, atau kendaraan listrik? Dan yang paling penting, bagaimana hubungan antara emisi VOC, pembentukan partikel, temperatur kabin, serta paparan penumpang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Satu hal yang jelas dari penelitian ini: kabin mobil bukan sekadar ruang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ketika kendaraan tertutup dan terpapar matahari, kabin menjadi sebuah lingkungan mikro dengan suhu, kelembapan, dan dinamika polutan yang terus berubah.
Dan ternyata, pengharum yang kita pilih juga menjadi bagian dari cerita tersebut.
Sumber: Riyados Solichin, Muji Setiyo, dan Mohamad Heerwan Bin Peeie, “Effects of Car Air Freshener Formulations on Airborne Particle Concentrations in Solar-Heated Vehicle Cabins,” Scientific Experiences in Mechanical Engineering, Vol. 1 No. 1 (2027), DOI: 10.68252/seme.2.
